Tampilkan postingan dengan label cerita kado. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita kado. Tampilkan semua postingan

2017/08/11

Kado Kenangan Buat Mantan

Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa mantan itu sebagai pertemanan yang sudah putus hubungan secara total, baik sebagai sahabat apalagi kekasih. Sehingga mereka benar-benar sudah tidak ada hubungan sama sekali. Bahkan, ada juga yang menjurus ke permusuhan karena ada perasaan dendam ketika memutuskan untuk putus cinta.

Namun ada juga yang beranggapan sebaliknya, walaupun sudah putus cinta tapi hubungan persahabatan masih tetap melekat dan bahkan masih terselip perasaan cinta. Mereka terus menjalin hubungan persahabatan seperti layaknya persahabatan dengan teman yang lain tanpa adanya gap. Pada momen-momen penting dia, seperti hari ulang tahun, hari kelulusan sekolah dan hari pernikahannya, mereka juga memberikan sebuah kado sebagai wujud simpati kepadanya.

Isi Kado

Seperti yang pernah saya alami pada beberapa hari yang lalu, mantan pacar saya (baca: istri), sedang menjumpai hari kelahirannya yang ke-39. Sebenarnya saya dan keluarga tidak mewajibkan untuk saling memberi kado di hari ulang tahun kelahiran karena menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang tidak perlu dirayakan dengan alasan tertentu. Akan tetapi secara tidak sengaja pada saat menjelang hari ulang tahun dia, apa yang sudah saya perjuangkan selama kurang lebih sepuluh tahun baru dapat terasa manfaatnya. Dan oleh istri saya, kesuksesan saya itu dianggapnya sebagai kado buat dia.

Arti Penting Kado

Beberapa penyebab kemungkinan kegagalan saya dalam mengurus blog adalah blog yang saya kelola tidak sesuai dengan passion saya, tidak bersungguh-sungguh dalam mengelola blog dan banyak dikalahkan dengan aktivitas offline. Mungkin yang paling dominan adalah blog yang saya bangun tidak menurut pasion saya sehingga ada kecenderungan untuk memaksakan diri dalam mengurusnya. Sesuatu yang dipaksakan pasti tidak akan bertahan lama dan akhirnya beberapa blog yang saya bangun itu tidak dapat dipertahankan.

Apabila diibaratkan seorang blogger adalah seorang pelari, maka blogger adalah pelari marathon dan bukan sprinter. Seorang blogger harus terus berkarya untuk menghasilkan artikel untuk di posting tanpa henti dalam kondisi apapun dalam jangka waktu yang sangat lama. Saya menyadari bahwa blogger itu tidak dapat mengandalkan mood dalam memproduksi tulisan. Kalau baru mood untuk menulis, barulah untuk menulis secara panjang lebar. Namun ketika baru tidak ada mood, dia hanya akan menulis dengan asal-asalan dan bahkan tidak menulis sama sekali dalam waktu yang sangat lama. Jadi, apabila Anda sudah berkomitmen untuk menjadi seorang blogger, ya tentunya harus setia dan menyukai dalam hal tulis menulis.

Perjuangan panjang yang saya alami dalam mengelola blog ternyata akhirnya dapat dihargai juga oleh istri. Siapa yang dapat percaya kalau setiap hari saya selalu ada di depan laptop namun belum dapat mewujudkan hasilnya dalam waktu bertahun-tahun. Bahkan mungkin saja menimbulkan pandangan yang tidak menyenangkan dan membosankan, “Tak…tik…tak…tik terus, mana hasilnya…!”. Saya pun tak dapat menyalahkan, memang seperti itulah kondisi saya.

Meskipun kadang aku merasa tidak nyaman, aku tetap berusaha untuk terus berada di depan laptop. Bukannya tidak bersyukur, memang saat ini saya sudah bekerja di beberapa tempat, seperti yang sudah saya tuliskan di profil. Namun tak ada salahnya bila disela-sela kesibukan offline tersebut, saya manfaatkan untuk mengelola blog. Dengan menulis blog dapat memicu andrenalin dalam menulis sehingga dapat mendukung pekerjaan saya, terutama dalam membuat proposal dan hasil penelitian.



Rating: 4.5 Reviewer:
ItemReviewed:

2014/01/27

Sejarah Valentine's Day, Kado di "Hari Kasih Sayang"

Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah dan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno.

Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga sudah sewajarnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. Masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Semangat Valentine = Semangat Berzina

Sejarah Valentine's Day, Kado di "Hari Kasih Sayang"Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang. Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan.

Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Nah, Bagi Anda seorang muslim, Bisa memberikan tulisan atau share link artikel ini sebagai Kado untuk cowok atau cewek segala usia yang belum bisa memahami apa sebenarnya valentine days. Dengan cara ini kita telah menyebarkan kasih sayang untuk menyelamatkan bahaya pendangkalan Aqidah.



Rating: 4.5 Reviewer:
ItemReviewed:

2014/01/07

Cerpen; Kado Terakhir untuk Sahabat

Oleh: Karya Nurul Alma Febriyanti

Lima hari sebelum kawanku pindah jauh disana. Selepas makan siang, aku langsung kembali beranjak ketempat aku bermain dengan sahabatku.

“hei, kemana saja kamu? Daritadi aku nungguin” Tanya sahabatku yang bernama Alvi.
“tadi aku makan siang dulu” jawabku sambil menahan perut yang penuh dengan makan siang
“ah ya sudah, ayo kita lanjutkan saja mainnya” sahut Alvi. 

Tidak lama saat aku & Alvi sedang asyik bermain congklak, Rafid adiknya Alvi datang menghampiri kami berdua.

“kak, aku pengen bilang” kata Rafid “bilang apa?” sahut Alvi penasaran
“kata bapak, sebentar lagi kita pindahan” jawab Rafid “hah? Pindah kemana?” tanyaku memotong pembicaraan mereka
“ke Bengkulu” jawab Rafid dengan singkatnya
“ya udah kak, ayo disuruh pulang sama ibu buat makan siang dulu” ajak Rafid ke Alvi
“iya deh.. ehm.. Alma, aku pulang dulu ya aku mau makan siang” ujar Alvi 
“eh, iya deh aku juga mau pulang kalau gitu” sahutku tak mau kalah.

Sesampainya dirumah aku langsung masuk kedalam kamar & entah kenapa perkataan Rafid yang belum pasti tersebut, terlintas kembali ke pikiranku. “Andai perkataan tersebut benar, tak terbayang bagaimana perasaanku nanti” ujarku pada cermin yang menatapku datar “sudahlah daripada aku memikirkan yang belum pasti lebih baik aku mendengarkan musik saja” ujarku kembali sambil beranjak mengambil mp3. Tak lama kemudian aku mendengar sebuah pembicaraan, yang aku tau suaranya sudah tak asing lagi bagiku yaitu orang tuaku & orang tua Alvi sahabatku. Aku mencoba mendekati pintu kamar untuk mendengarkan pembicaraan itu. Tak lama tanganku keringat dingin, aku sudah mendapatkan inti pembicaraan ternyata benar apa yang dikatakan Rafid pada Alvi tadi siang bahwa mereka akan pindah kurang lebih sebulan lagi.

Lemas sudah tubuhku setelah mendengar kabar itu, tiba-tiba ibu mengetuk kamarku dan mengagetkanku yang sedang bingung itu.

*Tok3X…
 “Alma, kamu mengunci pintu kamarmu ya” Tanya ibu sambil mencoba membuka pintu
“enggak kok” jawabku dengan lemasnya
“kamu kenapa.. ayoo buka kamarmu!!” teriak ibu
“iya.. sebentar” sahutku sambil membuka pintu.
“ngapain kamu mengunci kamar?” Tanya ibu.
“gak knapa2… tadi aku memang lg duduk didepan pintu” jawabku sambil menoleh keruang tamu yang berhadapan dengan kamar tidurku.
“ya sudah, tadi orang tuanya Alvi bilang kalau mereka ingin pindah bulan depan”
“iya, aku sudah tau” sahutku kembali ke kamar tidur.
“oh kamu tidak sedih kan?” Tanya ibu yang menghampiriku.
“…” tak kujawab pertanyaan ibu.
“hm.. sudahlah tak usah dibahas dulu.. sana tidur siang dulu biar nanti malam bisa mengerjakan PR” ujar ibu sembari mengelus elus rambutku.
“iya…” jawabku singkat.

Esoknya tepat dihari Minggu, matahari pagi menyambutku. Suara ayam berkokok dan jam beker menjadi satu. Tetapi, aku tetap saja masih ingin ditempat tidur. Sampai sampai ibuku memaksaku untyk tidak bermalas malasan.

“Alma, ayoo bangun.. perempuan gak baik bangun kesiangan” ujar ibu sambil melipat selimutku. “sebentar dulu lah.. aku masih ngantuk” sahutku sambil menarik selimut ditangan ibu. 
“itu Alvi ngajak kamu main.. ayoo bangun!!” ujar ibu kembali sambil mengeleng gelengkan kepala. “oh oke oke” sahutku semangat karena ingat bahwa Alvi akan pindah sebulan lagi. Lalu, aku langsung beranjak dan segera lari keluar kamar tidur untuk mandi dan sarapan. Setelah itu Alvi tiba-tiba menghampiri rumahku
“Assalamualaikum, Alma!!” panggil Alvi dari depan rumah.
“walaikumsallam, iya!!” sahut ibuku yang beranjak keluar rumah.
“oh ibunya Alma, ada Alma nya gak?” Tanya Alvi.
“Alma nya lagi sarapan, sebentar ya tunggu dulu aja. Sini masuk” jawab ibuku.
“iya, terimakasih” sahut Alvi.

Ketika aku sedang asyik asyiknya sarapan, Alvi mengagetkanku.

“Alma, makan terus kau ini” ujar Alvi sambil tertawa.
“yee, ngagetin saja kamu ini. Aku laper tau” sahutku sambil melanjutkan sarapan.
“kok gak bagi-bagi aku sih” Tanya Alvi sambil menyengir kuda.
“kamu mau, nih aku ambilin ya” jawabku sambil mengambil piring.
“hahaha.. tidak, aku sudah makan, kau saja sana gendut” sahut Alvi sambil tertawa terbahak bahak. “ ya sudah” jawabku kembali sambil membuang muka. 

Tak berapa lama kemudian, sarapanku habis lalu Alvi mengajakku bermain games.

“sudah kan, ayoo main sekarang” ajak Alvi semangat.
“aduh, sebentar dong. Perutku penuh sekali ini” sahutku lemas karena kebanyakan makan.
“ah ayolah, makanya jangan makan banyak-banyak. Kalau gitu kapan mau dietnya” ujar Alvi menyindirku.
“ya sudah ya sudah.. ayoo mau main apa?” ajakku masih malas.
“Vietcong yuk tempur tempuran” jawab Alvi semangat seperti pahlawan jaman dulu.
“hah, okedeh” sahutku sambil menyalakan laptop milik ayah.

Kemudian, aku dan Alvi bermain games kesukaan kami berdua. Kami bermain bergantian, besar besaran skor, dll tidak berapa lama ibunya Alvi memanggilnya untuk pulang.

“Assalamualaikum, ada Alvinya gak?” Tanya ibunya Alvi sambil tersenyum denganku.
“ada-ada.. Alvi! ibumu mencarimu” kataku kepada Alvi yang sedang asyik bermain.
“iya.. sebentar lagi, emangnya kenapa?” Tanya Alvi.
“aku tidak tau, sana kamu pulang dulu.
"Kasian ibumu” ujarku sambil mematikan permainan. 
“huh… iya iya” sahut Alvi beranjak pulang kerumahnya.

Tak berapa lama, Alvi mengagetkanku saat aku sedang asyik melanjutkan permainan yang sedang aku mainkan.
“Alma!!” panggil Alvi sambil menepuk pundakku.
“Apa??” jawabku kaget.
“aku pengen bilang sesuatu nih, hentikan dulu mainannya” ujar Alvi.
“iya!!” jawabku agak kesal.
“jadi gini.. dengarkan ya… ternyata aku akan pindah 3 hari lagi” cerita Alvi.
“hah? Kok dipercepat??” sahutku memotong pembicaraan Alvi.
“aku juga tidak tau, kau sudah memotong pembicaraanku saja. Sudah ya aku harus pulang ini.. bye!” ujar Alvi beranjak keluar rumah.
“tunggu!! Kau serius??” tanyaku dengan penuh ketidak percayaan.
“serius.. dua rius malahan” jawab Alvi sambil memakai sandal.
“oh ok.. bye!!” sahutku kembali. Setelah Alvi pulang kerumahnya, aku langsung lari masuk kedalam kamar dan mengunci diri. 

Aku tidak tau apa yang harus kulakukan sedangkan sahabatku sendiri ingin pindahan. Terlintas dipikiranku untuk memberikan Alvi sahabatku sebuah kado yang mungkin isinya bisa membuat Alvi mengingat persahabatan antara kita selamanya walaupun sampai akhir hayat nanti kita tak akan dipertemukan lagi. Ku ambil buku diary & kutuliskan cerita-cerita persahabatanku dengan Alvi. Tak lama kemudian , terpikirkan suatu hadiah yang akan kukasih dihari dia pindahan nanti lalu, aku ambil uang simpanan yang kusimpan didompetku & ku piker-pikir uangnya cukup untuk membelikan hadiah untuk Alvi.

Besoknya sehabis pulang sekolah, aku langsung berlari ke toko sepatu dekat rumahku. Ku lihat-lihat sepatu yang cukup menarik perhatianku, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang menghampiriku.

“hai nak, kamu mencari sepatu apa?” Tanya seorang bapak yang menurutku adalah pemilik took sepatu tersebut.
“i..iya pak, maaf ada sepatu futsal tidak?” tanyaku sambil celingak celinguk kesegala rak sepatu.
“oh, ada kok banyak.. untuk apa? Kok perempuan nyari sepatu futsal?” Tanya pemilik sepatu itu sambil tertawa melihatku yang masih polos.
“bukan untukku pak, tapi untuk sahabatku” jawabku dengan polosnya.
“teman yang baik ya, memangnya temanmu mau ulang tahun?” Tanya pemilik toko itu. Entah kapan pemilik toko itu berhenti bertanyaku.
“iya” jawabku berbohong karena tak mau ditanya-tanya lagi.
“ok, sebentar ya. Bapak ambilkan dulu sepatu yang bagus untuk sahabatmu” ujar pemilik toko sepatu itu sambil berjalan ke sebuah rak sepatu.
“sip, pak” sahutku.

Tak lama, si pemilik toko sepatu itu kembali sambil membawa sepasang sepatu futsal.

“ini nak!!” kata pemilik toko sepatu itu.
“wah bagus sekali, berapa pak harganya?” tanyaku sambil melihat lihat sepatu yang dibawa oleh si pemilik toko itu.
“bapak kasih murah nak untukmu.. ini aslinya Rp. 60.000 jadi kamu bayar Rp.20.000 saja nak” jawab si pemilik toko itu sambil tersenyum.
“terima kasih banyak pak, ini uangnya” sahutku.
“iya nak, sama-sama” ujar sipemilik toko tersebut.

Setelah itu, aku kembali kerumah dan mulai membungkus kado untuk Alvi. Mungkin ini hadiahya tidak seberapa, kutuliskan juga surat untuk Alvi.

***

Malamnya aku masih memikirkan betapa sedihnya perasaanku nanti jika sahabatku pindah pasti tidak bisa bermain bersama lagi seketika air mataku menetes & tiba-tiba ibu mengetuk pintuku.

“Alma, ayo kerjakan dulu PRmu nanti kemalaman” ujar Ibu dari depan pintu kamar tidurku.
“i..iya” sahutku sambil mengelap tetesan air mata yang membasahi buku yang sedang aku baca. 

Saat itu pikiranku masih campur aduk entah harus senang, sedih atau apa. Aku tidak bias konsen mengerjakan PR malam itu.

Besoknya disekolah, aku sering bengong sendiri sampai-sampai guruku bertanya kenapa aku seperti itu. Ku jawab saja dengan jawaban yang sangat singkat karena aku sedang memkikirkan bahwa besok lah dimana aku akan berpisah dengan sahabatku sendiri. Sepulang sekolah, aku langsung berlari memasuki kamar lagi, mengurung diri hingga malam. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku & kuintip lewat jendela kamar. Tak lama kemudian juga Ibu memanggilku untuk keluar kamar sebentar.

“Alma, ayoo keluar sebentar. Ada Alvi nih” ajak ibu sambil membuka pintu kamarku.
“iya…” jawabku beranjak keluar kamar.
“nah kamu sudah disini, jadi begini besok kan Alvi mau pindah ayoo berpamitan dulu” ujar ibuku.
“Alma!!” peluk ibunya Alvi kepadaku. “maafin tante sama Alvi beserta keluarga ya jika punya salah sama kamu, ini tante ada sesuatu buat kamu” kata ibunya Alvi sambil memberiku sekotak coklat.
“i..i..iya” sahutku tak bisa menahan perasaan & sejenak kuingat bahwa aku juga punya hadiah untuk Alvi.
“Alvi, ini ada hadiah buat kamu. Terima ya” ujarku mulai menangis.
“iya. Alma jangan nangis dong” jawab Alvi.
“aku..” sahutku semakin sedih.
“sudah kamu tidak usah sedih nanti suatu saat kalian bisa ketemu kembali kok, ibu yakin” kata ibu sambil menghapus air mataku.
“ya udah, Alma jangan nangis ya… oh iya ini tante kasih no telp. Tante biar nanti kalau Alma kangen sama Alvi bisa sms atau telepon ya” ujar ibunya Alvi sambil menghapus air matanya pula yang hendak menetes.
“iya..” jawabku sambil masih menangis.
Malam pun tiba, Alvi dan keluarganya pun berpamit & harus segera pulang. Aku pun kembali ke tempat tidur & mulai menangis. Ku gigit bantal yang ada didekatku tak tahan aku melihat hal tadi.
***

Esoknya, tepat dipagi hari. Suara mobil kijang mengagetkanku & bergegas aku keluar. Ku lihat Alvi & keluarganya sudah bersiap-siap untuk berangkat, tubuhku mulai lemas ibu pun mengagetkanku untuk segera bersiap siap sekolah. Sebenarnya aku ingin tidak sekolah dulu hari itu tapi bagaimana juga pendidikan yang utama. Aku bergegas kesekolah tapi sebelum itu, aku berpamitan dengan Alvi lagi.

“Alvi!!” panggilku dari jauh.
“Alma!!” jawabnya sambil mendekatiku.
“jaga dirimu baik baik disana ya kawan, semoga banyak teman-teman barumu disana & jangan lupakan aku” ujarku mulai meneteskan air mata.
“iya, kamu tenang. Kalau kamu sedih kepergianku ini tidak akan nyaman” sahutnya sambil memberiku tissue.
“iya… terima kasih” jawabku kembali sambil menghapus airmata dengan tissue yang diberikan oleh Alvi.
“oh iya Alma, thanks ya buat kadonya itu bagus banget… aku juga udah baca suratnya… terima kasih banyak ya… akan kujaga terus kado mu” ujar Alvi menatapku.
“iya.. sama-sama karena mungkin itu kado terakhirku untukmu kawan” sahutku sambil tersenyum tak menunjukkan kesedihan lagi.
“kau memang sahabat terbaikku selamanya” kata-kata terakhir Alvi yang ia ucapkan kepadaku. 

Disitulah aku berpisah & disitulah aku harus menempuh hidup baru, juga makna dari sebuah persahabatan tanpa menilai kekurangan seorang sahabat.



Rating: 4.5 Reviewer:
ItemReviewed:

2013/04/03

Cerpen: Kado Untuk Ibu


Bayangan pohon kamboja yang berbunga jarang namun berdaun lebat membuat tubuhnya terlindungi dari terik sore matahari. Matahari sore selalu membuat kunang-kunang lebih cepat muncul di matanya setiap dia berjongkok di sisi gundukan tanah yang di dalamnya tersimpan jasad ibu. Beruntung, terpaan sinar matahari dari arah barat membuat tempatnya berjongkok kali ini terasa lebih teduh.

Memang ada yang tidak biasa dari ziarahnya kali ini. Jika biasanya dirinya ziarah karena memang sudah menjadi kewajibannya sebagai anak, ataupun juga mungkin karena perasaan rindu yang begitu sangat, kini, ziarahnya lebih sebagai upaya penepatan janjinya pada ibu. Selain karena memang, hari ini adalah tepat hari dan tanggal kematian Ibu.

”Ibu, aku datang. Kutepati janjiku,” bisikkku pelan.

Setiap kali ziarah ke sini, Abi memang seperti berdialog dengan ibu. Dia bisa merasakan hangat senyum ibu ketika menyambut kedatangannya. Pun dia bisa merasakan hangat nafasnya ketika peluk tubuh perempuan itu mencoba merapat ke tubuh Abi.

”Kupikir tidak ada lain yang bisa kulakukan untuk mengobati rinduku pada ibu, selain dengan ziarah ini,” simpulnya.

Di kesehariannya, Abimanyu dikenal pendiam. Sangat sulit untuk menggali informasi apapun dari mulutnya. Itulah Abimanyu, seorang kstaria pembuka hutan Pulau Jawa yang dikenal sebagai tokoh rupawan yang tak banyak bicara. Begitu sindir kawan-kawannya.

”Sebisa mungkin, masalahku, dan apapun yang berkaitan dengan diriku, adalah urusanku, dan bukan urusan orang lain,” pikir Abi selalu.

Tapi, biar bagaimanapun, ternyata dia pun mengakui kalau dirinya adalah manusia normal. Segala masalah yang ada di dalam dadanya, suatu ketika memang seperti harus dibuncahkan. Mulutnya pun seolah tak mampu lagi menahan semua persoalan itu. Tapi apa daya, ternyata Abi tak lagi punya cadangan kata-kata untuk mengutarakannya.

Maka, gundukan tanah inilah jawaban dari segala persoalan. Satu-satunya cara adalah memang dengan menumpahkan segalanya melalui bisik batin, yang dibisikkannya kepada ibu. Ya. Hanya ibu yang dia percaya untuk mendengarkan semua yang keluar dan membuncah dari dalam dadanya. Oleh karena itulah sejak kematiannya, pusara ibu, merupakan tempat yang paling sering dia datangi, meski hanya untuk sekadar berkeluh kesah.

”Dengan begitu, aku merasa seperti berdialog dengan beliau,” jawabnya setiap ada pertanyaan mengenai seringnya dia mengunjungi makam itu.

 Tidak jarang, saran-saran yang didengarkannya dari suara yang entah dari mana datangnya, merupakan solusi dari segala permasalahan. Tidak terkecuali soal Ganis. Rengganis nama panjangnya.

***
Kalau tak salah, 4 tahun lalu, sebelum ibu meninggal, tepatnya, saat beliau menahan aliran nafasnya untuk tidak dulu meninggalkan tenggorokannya, dengan sangat jelas aku masih ingat permintaannya waktu itu, yakni ingin melihat calon istriku.

”Ibu ingin memberikan restu, nak,” kucoba mengingat permintaannya waktu itu.

Barulah, setelah kubisikkan beberapa kata untuk menenangkannya, beliaupun melepas nafas terakhirnya. Sontak kamar mendadak pecah oleh raungan tangis seluruh keluarga.

Setahun setelah kepergian ibu, barulah aku bertemu Ganis. Aku mengenal perempuan bermata bulat itu saat aku bekerja sebagai salah satu supervisor di salah satu hotel bintang 4 di kotaku. Ketika itu, dia bekerja sebagai salah satu karyawan casual di sana.

Dengan seragam hitam-putih, serta rambut yang disanggul rapi, membuat mata bulatnya tampak begitu penuh. Setitik hitam di sudut kanan atas bibirnya yang tengah tersenyum seperti terasa begitu memabukkan, setidaknya buatku.
Belum lagi lekuk tubuhnya. Seperti kekuatan kutub yang saling berlawanan, dengan kemeja yang menempel ketat di kulitnya, membuat lekuk tubuh yang kurus itu begitu saja menarik arah kedua bola mataku.
Jika orang Jawa sepertiku biasanya gemar pada tubuh perempuan yang gemol, namun sepertinya demi perempuan bermata bulat itu, sejenak prinsip kejawaan harus rela kutinggalkan. Tubuh kurus yang terbalut kemeja putih kini benar-benar meruntuhkan segala prinsip kejawaanku. Tak lagi aku bermimpi soal perempuan sempurna bertubuh gemol, namun tubuh kurus berkemeja putih itulah yang selalu mengisi ruang dalam tidurku.

Sejak pertama berkenalan, seperti tak tersirat satupun keraguan di hati kami untuk segera memutuskan hidup bersama. Alhasil, tak lama setelah saling mengenal, sebuah cincin sudah tampak melingkar di jari kami.

 ”Itu artinya, kami sudah menikah, ibu,” bisikku sambil terus mengelus gundukan tanah makam ibu di depanku.

Awalnya aku memang sempat ragu untuk memilihnya sebagai pilihan terakhir. Lebih-lebih keraguan itu disebabkan karena namanya. Betapa tidak, nama Rengganis sangat tidak asing bagiku. Nama itu pernah begitu dekat denganku, terlebih ketika aku disibukkan dengan sebuah penelitian terkait legenda nama itu.
Jika teringat dengan penelitian itu, sontak bulu di tengkukku berdiri. Betapa tidak Rengganis adalah ratu para danyang yang menghuni hampir 70 persen hutan di Pegunungan Hyang dengan puncak Rengganis sebagai istananya. Merinding juga ketika membayangkan sosok danyang kuda berkepala manusia yang kerap muncul di hutan pegunungan itu yang merupakan salah satu jelmaan dari pasukan perempuan yang merupakan mantan selir Prabu Brawijaya itu.

Meski begitu, setidaknya seutas benang merah kutarik sekadar sebagai pembenaran atas pilihanku kepada Ganis.

 "Mereka berdua sama-sama cantik. Makhluk yang sempurna,” kenangku ketika memutuskan memilih Ganis.

Nyaris tak ada kendala serius dalam hubungan kami. Bahkan ketika aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan di hotel itu. Bekerja sebagai supervisor memang terasa sangat membosankan bagiku. Setidaknya dengan alasan itulah, aku meninggalkan pekerjaan di hotel itu, hingga kini aku bekerja sebagai content writer di salah satu perusahaan periklanan di kota tempatku tinggal.

Justru itulah yang begitu kubanggakan dari Ganis. Dengan gajiku kini yang bisa dikatakan 2 kali lebih kecil dari pekerjaan sebelumnya, dia masih mencoba untuk terus bertahan.

”Itu yang membuatku bangga kepadanya, ibu,” gumamku tanpa sadar.

Memang, nyaris tak ada pertengkaran antara kami berdua. Nyaris tak pernah ada kendala bagi kami dalam menjalani hari-hari kami. ”Kami begitu menikmati hari-hari kami di rumah peninggalanmu, bu,” ucapku tiba-tiba bersemangat.

Hanya saja, satu-satunya kendala kami adalah tak adanya seorang pun dari keluargaku yang setuju dengan pernikahan kami, meski pada akhirnya mereka pun menerima kehadiran Ganis. Alasannya cukup masuk akal, yakni karena kondisi Ganis yang setahun lalu divonis menderita kanker leher rahim stadium 3+.

Awalnya memang terasa sangat berat. Betapa tidak, tak pernah Ganis bercerita padaku soal penyakit itu. Tak pernah Ganis mengatakan soal keluhan di leher rahimnya. Tak pernah Ganis bercerita tentang itu semua. Tak pernah. Tak pernah sekalipun dia cerita.

”Aku tidak ingin kehilanganmu, katanya. Itulah alasan dia tidak mengatakan apapun padaku, ibu,” keluhku.

Memang, entah dimana otakku waktu itu. Segala kecerdasanku seperti dibuat mati oleh kecantikannya. Tapi yang pasti, yang aku tahu, aku telah memilihnya, lengkap dengan segala konsekuensinya.

”Aku sadar, usianya tidak panjang. Mungkin itulah alasanku untuk menikahinya, ibu,” bisikku lagi.

Meski firasatku mengatakan begitu, namun itu sama sekali tidak mengurangi gumpalan rasa di dadaku padanya yang semakin hari semakin membesar, apalagi setelah kulihat wajahnya yang semakin tirus dan tubuhnya yang dilahap kurus.

Sekali pun tak pernah terlintas olehku, untuk meninggalkannya, meski kutahu, di luar sana, semua orang menganggap aku telah mengambil sebuah keputusan yang luar biasa salah. 

”Apa salahnya seorang yang memiliki jabatan tinggi di sebuah hotel berbintang, beristrikan seorang perempuan yang hendak memasuki ajal,” tanyaku dalam hati.

Ternyata dugaanku tidak meleset. Di tahun kedua perikahan kami, penyakitnya mulai terlihat. Aku masih ingat, ketika suatu pagi, tiba-tiba dia terjatuh saat memasak. Tak berapa lama, dokter yang merawatnya pun memvonis, kanker leher rahim yang diderita Ganis pun sudah mencapai stadium 3+. Itu artinya, perawatan intensif, mutlak diberikan kepada Ganis.

”Sudah kuminta dia untuk mengalah dan mengikuti semua prosedur pengobatan. Tapi dia tak mau, ibu,” keluhku yang kali ini dengan suara lebih keras.

***

Sebuah ruang dengan aroma penicilin yang pekat, kelambu dan segala yang berwarna putih kelabu. Tubuh Ganis terkapar di atas ranjangnya. Dewi seribu danyang itu seperti tak kuasa menahan leher rahimnya dikuasai oleh kanker ganas. Hanya suara desah nafasnya yang sesekali terdengar saat ruang menyepi.

Aku seperti tengah berbaring di sebuah puncak gunung dengan istana yang terbuat dari tumpukan puluhan, bahkan ratusan andesit dan batu kapur. Sedang di luar sana, langit tampak lembayung dan murung.

Kulihat ratusan makhluk beragam bentuk tertunduk. Tak satupun dari mereka berani mengangkat wajahnya. Aku bisa merasakan kesedihan di mata mereka yang terus menunduk. Tapi perempuan ini, hanya perempuan ini yang tak pernah tampak sedih. Seutas senyum tetap menyungging di bibirnya. ”Sudahlah, nak. Ikutlah dengan ibu. Suamimu sudah mengikhlaskanmu. Aku ingin lebih dekat denganmu, menantuku,” bisiknya mendadak terdengar mengalun lembut di liang telingaku.

***

”Dia memilih untuk berkumpul denganmu ibu,” ujarku sambil meremas tanah yang ada di genggamanku.

Kuingat, selama 3 hari, tubuhnya mengejang kaku. Matanya terus terpejam, meski nafas masih mengalir di tenggorokannya. Setidaknya itu bisa kulihat dari sepasang buah dadanya yang tampak mengembang-kempis. Selang oksigen seperti membungkam mulutnya. Beberapa jarum menembusi lengannya dan dari selang kecil dialirkannya cairan nutrisi ke dalam tubuh Ganis.

Cerpen: Kado Untuk Ibu
Tak ada yang lebih menyedihkan buatku saat melihat tubuhnya di bungkus dengan selang dan jarum seperti itu. Meski begitu, kulihat senyum dari bibirnya yang mengatup. Kulihat cerah sinar dari matanya yang terpejam. Itulah yang membuatku bangga akan dirinya.

”Dia begitu tegar, ibu. Begitu tegar. Seperti dirimu dulu,” ujarku sambil kembali mengelus nisan di pusara ibu.

Seperti yang kau minta, Ibu. Aku membawa Ganis padamu.

”Perkenalkan, ibu. Ini Ganis, istriku,” ujarku pelan.

Memang, tak ada yang lebih indah saat melihat kalian, Ibu dan Ganis bertemu dan bersatu. Ibu, selamat ulang tahun. Maafkan aku, ibu, karena harus membuatmu menunggu lama hanya untuk sebuah permintaan kecil semacam itu.

Semoga jenazah perempuan bermata bulat berbungkus kain putih yang tergolek kaku di sisi pusaramu itu, menjadi kado terindah dari aku, anakmu.

***
Oleh: Arief Junianto
Biodata: A.Junianto, lahir di Surabaya, 4 Juni 1984. Aktif di komunitas Studi Seni dan Sastra CDR (Cak Die Rezim) Surabaya. Selain itu, aktif juga di Komunitas Pegiat Seni dan Sastra LIMA Jogjakarta. Hingga kini karya-karyanya banyak terdapat di beberapa antologi bersama, seperti Monolog Kelahiran (Sasindo Unair, 2003), Senjakala (Lima, 2005), dan Ruang Hitam (Lima, 2006), Mozaik Ingatan (CdR, 2010) Karya-karyanya juga banyak dimuat di beberapa media cetak dan online lokal maupun nasional seperti, Bali Post, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, dan Surabaya Post.
Sumber: http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/03/08/kado-untuk-ibu-535332.html



Rating: 4.5 Reviewer:
ItemReviewed:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...